Minggu, 02 Oktober 2011

Seks In The Morning (SITM)

“aduh sayang.. mia udah telat nih...” ucapku ketus sambil mengangangkat kedua lengan mulusku keatas kepala, menggelung rambut panjangku yang mulai merepotkan. mungkin karena iseng, aku sengaja pengen memamerkan kemulusan ketiak dan montoknya payudaraku ke suamiku pagi ini.

dan benar saja, keisenganku langsung ia respon.
“Unit Reaksi Cepat..” pikirku dalam hati.

“mi.. bikin anak yuk...” ajak suamiku sambil tersenyum-senyum kearahku.
“idih....” jawabku malas sambil mengernyitkan hidungku.
”ayolah...bentaran aja... palingan ga ada 15 menit..” pinta suamiku sambil kedua tangan nakalnya mulai menggerayangi payudaraku yang menggelantung bebas.
“khan semalam udah mia kasih...”
“kurang...” jawabnya singkat sambil terus tersenyum lebar.
“haaah...? kurang...? khan semalam pejuh kamu keluarnya udah banyak banget gitu say...”
“abisan kamu seksi sih mi...”

senyum indah dipagi hari suamiku memang mampu meluruhkan segalanya. Senyum lebar yang ia sunggingkan benar-benar membuatku seperti dimabuk kepayang. Dan seperti terkena hipnotis, aku mengurungkan niatan kuliah pagiku sementara dan mulai meladeni nafsu pagi suamiku tersayang.

Kecupan pelan mulai ia luncurkan di sekitar payudaraku. Jilatan-jilatan kecil pun tak lupa mulai ia sarangkan ke puting coklat mudaku. Perlahan namun pasti, gairah bercintaku mulai naik, meninggi dan meninggi, seiring dengan mulai membanjirnya cairan vaginaku.

Dengan cekatan, lengan kekar suamiku memintaku untuk segera merebahkan tubuhku kembali. Bak tawanan perang yang tertangkap oleh penjajah, aku menyerah tak berdaya, membiarkan mulutnya bergerilya di pegunungan payudaraku sambil sesekali tangan kirinya meremas dan memelintir puting payudaraku perlahan .

Tak jauh dari situ, tangan kanannya pun tak mau tinggal diam, jemari-jemari besarnya seolah ingin turut merasakan kenikmatan di pagi hari yang cerah ini. Mulai menggelitik manja, celah vaginaku yang telah membanjir basah.

“SShhhh....mmmppphhh...” gelijangku mulai mewarnai suasana hangat pagi ini...
“bawahan say....” pintaku lagi sambil mulai memerintahkan jari tengah suamiku menggelitik clitoris merah jambuku yang sudah membesar.
“enak mi...?”

“... mmmmpphhh....” ujarku lirih sambil menggigit bibir bawahku.
“aku paling suka deh mi ama potongan jembut memek kamu ini...” puji suamiku sambil terus mengkobel kelentit vaginaku. “pendek tapi lembut..” tambahnya lagi..

“...ssssshhhh....” aku sama sekali tak menggubrisnya, karena saat ini aku sudah mulai merasakan nikmatnya orgasme yang perlahan mendekat. “bawahan lagi say... sssshhhh....iyak situ...sshhh... kobel terus say... terus.......”

Nafasku panasku mulai memendek, mirip orang yang sedang berolahraga. Detak jantungku mulai meninggi, dan yang pasti cairan kenikmatan vaginaku sudah membanjir meleleh membasahi telapak tangan suamiku.

Aku tahu, aku bukan type wanita yang kuat menahan desakan gelombang orgasme. Dan aku juga sadar jika aku bukan munafik yang sering berpura-pura teriak seolah ia benar-benar mendapatkan orgasme.

Aku wanita apa adanya yang ketika berpikir, berkata, dan bertingkah laku sesuai dengan kondisi yang aku alami saat itu.

“say... masukin sekarang donk.. adek mo keluar nih...” pintaku lirih sambil menyuruh suamiku tuk mengambil posisi misionaris.

Tanpa menunggu waktu lama, segera saja suamiku mulai memposisikan penis panjangnya diantara kedua paha jenjangku.

Perlahan, ia mulai menggesek-gesekkan kepala penisnya diantara lubang kanikmatanku. Sedikit demi sedikit ia mulai berusaha membasahi sekujur batang kelelakiannya.

CLEEEP...

“oouuhhh...” desahku lirih, ketika kepala penis suamiku mulai menyeruak masuk kedalam rongga vaginaku.

Hangat, kenyal, dan berdenyut. Itulah nikmatnya sensasi yang selalu aku rasakan ketika mulai bersetubuh.

Hangatnya cinta dari pasangan hidupku yang ia sentuhkan ke liang kenikmatanku, membuatku selalu tersenyum bangga. Karenamu aku bisa belajar menjadi seorang istri yang sempurna.

Kenyalnya daging berurat yang menyodok rongga kewanitaanku, seolah tak akan melepasku sampai kapanpun. Tubuh kami menyatu, dan kelaminku pun langsung terkait oleh batang panjangnya membuatku selalu merasa ‘digandeng’ olehnya. Terawasi, terjaga dan terlindungi dari segala hal yang bisa membahayakanku.

Dan denyut nadi sayang yang ia tunjukkan padaku. Pun, mampu membuatku seolah terbawa akan indahnya alunan detak kehidupan yang ia persembahkan untukku.

Mia sayang kamu. Hubby-ku..

Tusukan demi tusukan , mulai menggoncang tubuhku. Membuat kedua payudaraku berloncatan kesana kemari. Ganas, buas dan brutal. Itulah jenis seks yang selalu suamiku lakukan dipagi hari. Seolah tak ada lagi hari esok.

Tusukan-tusukan tajam batang penis beruratnya, mau tak mau membuatku sedikit mendesah lirih. Berusaha menikmati ke-liar-an nafsu seks dipagi harinya.

Remasan tangan kekarnya di payudaraku, hentakan pinggul kekarnya yang menabrak pantatku, tatapan mata ‘sange’nya yang seolah menghukumku, dan erangan-erangan tak jelasnya, seolah menghipnotisku untuk dapat ikut mengimbangi gerakannya. Walhasil, walau terkadang aku merasakan sakit karena tusukan tajam batang panjang penisnya, aku pun selalu menikmatinya.



Damn.. mata kuliah berikutnya udah akan dimulai ..

Disambung entar lg aja ya..

1 komentar:

Pengguna Mobil mengatakan...

Buat kamu yang gak punya pulsa. Ingin pulsa gratisan? Gabung fanspage facebook Aku Gak Punya Pulsa di

http://www.facebook.com/AkuGakPunyaPulsa

Ceritakan kenapa kamu gak punya pulsa dan dapetin isi ulang pulsa untuk semua operator.

Sebarkan dan buktikan rezeki pulsa bisa kamu dapatkan. Ayo gabung!

Totally Supported by KartuMerah

Poskan Komentar

 
;