Senin, 16 April 2012

Tak Sengaja (Part 3)

Astaga, ternyata sosok yang saat ini sedang menyetubuhi dirinya bukahlah Lody, suami Naya. Sosok itu adalah Udin, si ojek kampung pacar Mitha, anak semata wayangnya.

Tak pernah sekalipun Naya membayangkan akan terjadinya situasi seperti ini. Naya tahu sekali akan Loddy suaminya yang sangatlah pencemburu. Senyum sedikit ke lelaki lain saja, bisa membuat Lody menjadi uring-uringan, apalagi sampai melakukan perselingkuhan. Naya tak bisa membayangkan betapa murkanya Loddy jika dia sampai tahu wanita yang ia nikahi, saat ini sedang bersetubuh dengan orang lain.

“Bangsat lo din… cepet cabut tititmu…. Cabut….!!!”

Dengan segenap tenaga, Naya berusaha mendorong tubuh Udin. Namun sekuat-kuatnya tangan ramping Naya, ia seolah mendorong tembok. Tubuh kurus Udin sama sekali tak bergerak, sedikitpun..

"
Tante… Memekmu seperti memek perawan Tan… peret banget…" kata Udin.
“Bangsat lo Din… Bangsat… CABUUUTT….”

Tak kehabisan akal, Naya mulai memukul-mukulkan genggaman tangannya ke wajah tukang ojek itu.

Tapi, Udin yang sudah merasa berada diatas angin, segera menangkap kedua pergelangan tangan Naya dan langsung melentangkannya jauh-jauh kearah samping, sehingga Naya yang dalam posisi tak berdaya, lebih terlihat seperti orang yang pasrah daripada orang yang meronta-ronta.

“Bangsat lo Din… Cabut titit lo Din… Cabut…!!!”

Melihat Naya yang masih mencoba meronta, Udin tak kehabisan akal. Mulut dengan bibir tebalnya langsung ia majukan kedepan, menyeruput putting kiri Naya yang tegang kemerahan.

Melihat posisi yang sangat tak menguntungkan ini, “Ooouuugghhhh…. Sshhh…. “ mau tak mau Naya hanya bisa melengguh.
“OOuuhhhggg… Bangghsaaat lo Diinn…” ujar naya yang seolah mencoba merasakan gelijang kenikmatan pada putting payudaranya. Sejenak rontaan tangannya mereda, dan tubuhnya melemas.

Melihat Naya yang sudah takluk akan jilatan dan kenyotan bibirnya, Udin tak langsung mendiamkan wanita jajahannya begitu saja. Dengan gerakan perlahan, Udin yang merasa jika sekujur batang penisnya sudah sepenuhnya masuk ke dalam vagina Naya, mulai menggerakkan batang panjangnya mundur

“Bener nih tante ga mau ngentot ama Udin…?” Tanya tukang ojek itu dengan nada menggoda sambil mulai menggerak-gerakkan batang penis yang sudah menancap dalam di vagina Naya.

Mendengar suara cabul Udin, Naya yang semula terlena seolah kembali tersadar.
“Bangsat lo Din… CABUT BANGSAT… CABUT….” Naya meronta lagi sejadi-jadinya.

Udin yang masih merasa diatas angin kembali menggoda keimanan vagina Naya. Dengan tak mengurangi gerakan-gerakan menyodok pelannya, ia terus menggoda liang kenikmatan Naya dengan batang penis raksasanya. Udin tahu, jika walau Naya berkata bahwa ia sama sekali tak menginginkan persetubuhan yang terlarang ini, vagina Naya berkata hal yang berbeda.

Vagina Naya sudah sangat becek dan merekah  merah. Lendir yang keluar dari akibat persetubuhan batang dan celah kenikmatan ibu satu anak ini pun tak dapat berbohong. Merembes, banjir keluar dengan derasnya dan mulai berubah menjadi busa-busa putih.

“Bener nih tante ga mau Udin entotin…?” Goda Udin
“Cabut Din… Cabuuuuuttt…” Ujar Naya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Yaudah kalo tante nggak mau… Udin bakal cabut kontol ini…” ujar Udin santai. Dibenamkannya batang panjang miliknya itu untuk terakhir kalinya, sebelum ia benar-benar mencabut keluar secara perlahan.

“Ouuuhhhh….” Erang Naya ketika merasakan penis besar Udin itu terbenam seluruhnya kedalam liang kenikmatannya dan menyentuh dinding terdalam dari vaginanya.
“Titit Ojek kampung ini benar-benar enak… Titit ini mampu menggelitik vagina terdalamku…. Beda sekali dengan titit mas Loddy…. Benar-benar beda….” Galau batin Naya.

Matanya terpejam, dan bibir bawahnya tergigit.

Tiba-tiba, timbul perasaan galau dari dalam pikiran Naya ketika Udin mulai mencabut batang panjang penisnya. Naya merasakan sensasi yang aneh. Naya merasa begitu kosong. Naya merasa, seperti ada kesedihan yang mendalam seiring tercabutnya penis panjang Udin dari vaginanya.

Depresi di wajah cantik Naya terlihat begitu besar, dan entah apa yang ada dipikiran Naya saat itu sehingga pada akhirnya, kaki Naya mendadak merangkul pinggang Udin, menahan gerakan mundurnya dan meminta untuk maju kembali.

“Kok kaki tante nahan pantat Udin…? Tadi bilangnya suruh nyabut….?”

Galau, bingung, benci, dan pingin. Semua perasaan itu bercampur menjadi satu.

Memang sih, penis Loddy tak sebesar penis Udin.
Penis Loddy juga tak sepanjang penis Udin.
Dan yang paling nyata, penis Loddy tak seenak penis Udin.

Setetes air mata meleleh dari sudut matanya. Membayangkan kenikmatan dosa yang sedang ia lakukan. Naya harus segera memutuskan. Persetubuhan ini adalah salah. Benar-benar salah. Naya adalah wanita yang terhormat, walau ia tak menjabat apapun, namun di mata tetangga dan lingkungannya, derajat Naya cukup tinggi. Cukup disegani.

Disatu sisi, Naya sangat menginginkan persetubuhan ini, Naya sangat haus akan sensasi orgasme yang sudah lama tak ia rasakan dari penis Loddy, suaminya, dan entah kenapa, Naya mulai menikmati debaran aneh yang menggelora dalam dadanya dan vaginanya.

Namun, kembali naya bimbang, tak peduli berpedoman pada alasan apapun, namanya selingkuh adalah hal yang sangat salah. Naya harus memutuskan sesuatu. Harus….

“Entot aku Din…” Desah Naya dengan bibir yang masih tergigit.
“Haah? Udin ga salah denger nih Tan…?” Tanya Udin.

“Gila… Kamu gila Naya… kamu bakal bercinta dengan orang yang sama sekali bukan suamimu” pikiran sehat Naya mencoba menyadarkannya “Dia hanyalah tukang ojek…”

Tapi, benar kata pepatah “Nafsu mampu merubah segalanya…”

“Iya… Entot aku Din…. Entot aku dengan kasar….” Pinta Naya dengan kalimat kotor.

Pada akhirnya, Naya tak bisa lagi menghiraukan akan segala macam norma ada yang berlaku. Saat ini, hanya satu hal yang benar-benar ia inginkan.

Mendapat kepuasan dengan maksimal.

Kembali, Naya menggerak-gerakkan kakinya yang masih melingkar di pinggang Udin. Kaki jenjang itu seolah meminta pinggang Udin untuk kembali maju, menabrakkan batang panjang penisnya ke liang senggamanya yang terdalam.

“Entotin aku Diiinnnn… Entotin aku….” Naya berkata tanpa berpikir.

Pikirannya seolah tertutup oleh kenikmatan dari penis besar Udin. Penis yang terasa seolah selalu bergetar di setiap saraf vaginanya. Vagina gatal yang selalu haus akan gelitikan urat-urat penis ojek kampung ketika meluncur keluar masuk.

Naya merasa penis Udin mampu menyentuh daerah terjauh vaginanya. Penis itu seolah menggapai dan menggaruk hingga sangat dalam, menekan rahimnya dengan keras setiap kali ia sodok.

“Tante bakal puas… Tante ga bakal kecewa… dan tante bakal menginginkan kontol Udin untuk selalu dapat memuaskan tante….”

Tanpa mengambil ancang-ancang, Udin segera menghajar liang senggama milik ibu kekasihnya itu. Menghajar dengan sekuat tenaga, menusukkan dalam-dalam penis berukuran ekstranya.

Tanpa rasa ampun.

“CPAK… CPAK… CPAK… CPAK… CPAK…”

Suara tumbukan penis dan vagina basah terdengar begitu keras di tengah suasana malam yang gelap ini.

“Ooouuhhh… Memekmu benar-bener enak Tan… Jauh lebih enak dari memek pelacur di kampung sebelah….” Desah Udin yang semakin mempercepat sodokan di vagina Naya.

“Kurang ajar, vagina terawat milikku dibandingkan dengan vagina pelacur murahan” batin Naya.

“Sumpah… Enak banget Tantekuuu….. sepertinya Udin bakal cepet keluar nih Tan, kalo peretnya memek tante kayak gini…”

Merasakan kenikmatan jepitan vagina ibu satu anak ini, Udin seolah kesetanan. Matanya merem melek, dan mulutnya terus melumat kedua putting payudara Naya. Seolah tak mau kalah, Naya pun merasakan hal yang serupa. Gatal di vaginanya seolah terobati oleh sodokan-sodokan kasar ojek kampung yang semula tak ia sukai itu.

Saat ini, Naya sama sekali tak merasakan adanya perasaan jijik sedikitpun ke Udin. Tak ada perasaan marah, ataupun benci. Dan anehnya, vaginanya yang beberapa saat tadi terasa begitu perih menyakitkan, akibat sodokan penis panjang Udin, saat ini tak terasa menyiksa lagi. Malah, penis besar, hitam, dan menyeramkan itu, sekarang terasa begitu enak.

 “Tante… Udin mau keluar…” ujar ojek kampung itu tiba-tiba.
“Ooouuhh… Kamu pake kondom khan Din…?” Tanya Naya keenakan.
"Enggak.. Udin kalo ngentot da pernah pake kondom.."
“Sialan…” jerit Naya.
"
Tapi tenang saja Tan… Tante ga bakalan hamil ketika pertama kali bercinta dengan orang baru... terlebih jika tante merasa keenakan" kata Udin dengan muka serius.

“Pemikiran bodoh, aneh dan menyesatkan darimana itu…?” Tanya Naya
“Dari teman-teman Udinlah Tan..” jawab Udin lagi.
"Cabut tititmu ketika kamu keluar... Jangan keluarin spermamu didalam memekku… " Pinta Naya

Seperti sepasang pedagang dan pembeli yang sedang dalam proses negosiasi, Naya dan Udin pun tawar menawar sembari saling merasakan kenikmatan persetubuhan yang mereka lakukan.

“Yah… kalo ga boleh didalem, trus dikeluarin dimana donk…?”
“Dikamar mandi aja….”
"
Nggak mau ah… Kalo Udin ga boleh keluarin peju di memek Tante, Udin mau Tante sepongin kontol Udin, trus pas Udin mau keluar, Tante telan peju Udin...”
“Nggak mau….”
“Yaudah… Kalo gitu Udin tetep keluarin peju Udin di memek Tante…" ujar Udin sambil terus menyodok-nyodokkan penis panjangnya ke Naya.

Seumur-umur, Naya belum pernah melakukan oral seks. Apalagi sampai menelan sperma lawan mainnya.

"Ternyata… Tante ga sehebat Mitha" Ujar Udin tiba-tiba sambil menghentikan gerakan sodok-menyodoknya.

“Kenapa dengan Mitha…?”
“Yaudah deh…. Gapapa… Kali ini Udin keluarin peju dikamar mandi… Besok pagi aja Udin minta Mitha buat nyepongin kontol Udin…”

DEG…

Kembali, detak jantung Naya seolah berhenti berdetak setelah mendengar kata-kata Udin barusan.

Tukang ojek ini bakal meminta putri satu-satunya buat mengoral penisnya jika Naya tak mau mengabulkan permintaannya. Dan seolah tahu akan kelemahan utama Naya, Udin menyengir lebar.

“Besok kamu minta Mitha nyepongin kontolmu Din…?” Tanya Naya bingung.
“Iyaa…. Abisan Tante ga mau nyepongin kontol Udin…” Jawab Udin enteng.
“Kalo tante sepongin kontolmu…. Kamu ga bakal minta ama Mitha lagi khan Din….?”
“Iya…. Kalo tante selalu muasin kontol Udin… Udin ga bakal minta Mitha lagi….”

Naya tak bisa berpikir jernih jika sudah disangkut pautkan dengan putri kesayangannya. Seolah kehilangan kesadaran, akhirnya Naya menyetujui permintaan aneh Udin.

“Jadi gimana tan? Tante bakal sepongin kontol Udin khannn…??” Tanya Udin yang seolah sudah tahu jawabannya
"
I.. iya….  Din….” Jawab Naya terpaksa.
“Mulut tante bakal nerima pejuh Udin…?”
“Iya…”
“Tante bakal bakal telen pejuh Udin…?”
“……” tak menjawab pertanyaan terakhir Udin, Naya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Gila Naya… Kamu sudah benar-benar gila…” Selama ini, membayangkan air mani saja sudah membuat Naya merasa mual, apalagi menelan sperma. Itu hal yang sangat menjijikkan, tapi, setelah dipikir-pikir, hal itu jauh lebih baik daripada kemudian ia mendapati dirinya hamil karena benih tukang ojek.

“Okelah kalo begitu… sekarang Tante bakal merasakan gimana nikmatnya kontol Udin…”

Merasa senang karena permintaaan Udin yang dikabulkan Naya, Udin kembali mengambil ancang-ancang. Membetulkan posisi paha Naya dan meletakkan betis kaki jenjang Naya pada pundaknya. Kali ini Udin bakal melancarkan sodokan-sodokan brutalnya dengan cara yang lebih brutal.

Naya yang sudah pasrah, mendadak merasakan kenikmatan dari hal yang dinamakan persetubuhan. Rasa nikmat yang sudah lama tak ia rasakan. Rasa nikmat yang sudah lama tak ia peroleh dari suaminya.  

“Sssshh… Oooouuggghhh… Diiinnn… Sssshhhh…” Desah naya.

Naya tak lagi banyak berbicara. Ia hanya mendengus dan mengerang. Naya mulai menyerah pada kenikmatan dan kedatangan gelombang orgasme dari batang panjang tukang ojek yang dulu ia benci.
Ibu 34 tahun ini terlihat begitu menikmati permainan cintanya yang ia lakukan dengan batang panjang milik pacar putrinya.

Naya mulai menancapkan kuku jemarinya dan melenguh begitu keras setiap kali Udin menyodorkan penisnya secara brutal dan tak menentu. Naya di ambang orgasmenya lagi. Namun kali ini gelombang orgasme yang akan datang, jauh lebih besar dari gelombang orgasme beberapa saat lalu.

Kakinya secara otomatis dia dirangkulkan ke pinggang Udin. Meminta-minta supaya Udin membenamkan dengan ganas semua batang panjang itu kedalam kemaluannya. Hingga pada akhirnya…

“Ooooouuuuggggghhh… Dddiiiinnnnnn….” Teriak Naya sembari mencakar punggung hitam Udin. Orgasme Naya pecah. Orgasme yang sudah lama ia nantikan akhirnya dapat ia rasakan juga. Orgasme besar yang baru kali ini ia rasakan. Orgasme yang ia peroleh bukan dari suami yang ia cintai.

“Udin juga keluar Tanteee…..” Teriak Udin sambil mencengkeram keras buah dada Naya. “Kita keluar bareng-bareng….”

“OOoooouuuggghhh….. “ tubuh Naya tiba-tiba mengejang. Punggungnya membusur kebelakang, kepalanya mendongak keatas dan bola matanya memutih terbalik. Naya merasa tubuhnya begitu hidup. Karena kedutan orgasme yang menyerang sekujur organ kewanitaannya begitu hebat.

“Ssshh…. Tantee….. Ennaaaakkk baaanngeeettt…. Ooouuuggghhhtt…..” Teriak Udin begitu batang penis panjangnya memuntahkan lahar kenikmatan.

Kaget mendengar teriakan Udin, Naya buru-buru sadar. "Oh tidak," ujarnya tergagap "Tarik keluar din…"

Walau mendengar permintaan Naya, namun Udin sepertinya sudah tenggelam dalam kenikmatan yang ia terima dari vagina Naya. Alih-alih mencabut penis dari vagina, ia malah tersungkur jatuh kedepan. Menimpa tubuh sintal Naya.

Telat. Penis Udin memuncratkan tujuh gumpalan panas ke dalam vagina Naya. Tujuh gumpalan sperma yang langsung memenuhi rongga rahimnya. Tujuh gumpalan sperma yang bakal membuat Naya hamil.

Tapi entah apa yang ada di pikiran Naya saat itu. Karena walau baru saja menerima semua sperma tukang ojek kampung itu, Naya hanya bisa terdiam sambil sedikit tersenyum.

“Panas sekali sperma tukang ojek ini…” batin Naya.

Untuk beberapa saat, kedua insan ini menghentikan segala aktifitasnya. Mereka saling tindih dengan nafas yang putus-putus.


Naya yang merasa bahagia akan efek euforia orgasme hanya bisa tersenyum mendengar gombalan tukang ojek ini.

Orgasme kali ini benar-benar terasa begitu dahsyat, bahkan walau sudah 5 menit orgasme, vaginanya masih terasa berdenyut hebat. Vaginanya masih terasa kesemutan.

“Tante… kalo Udin mau ngentotin lagi… Tante masih kuat…?” bisik Udin sambil mengecupi pipi ibu satu anak ini.
“Emangnya titit kamu masih bisa bangun lagi Din…?” Tanya Naya heran.
“Kontol tante…. Bukan titit…titit mah punya anak kecil… kalo punya udin namanya kontol..” koreksi Udin.
“Eh iya… kontol…” ujar Naya langsung mengoreksi kalimatnya.

Udin hanya tersenyum melihat ibu kekasihnya ini pasrah menerima semua perlakuannya.
“Bisa donk tante….” Jawab Udin enteng sambil mulai menggerak-gerakkan batang penis panjangnya yang masih menancap erat di vagina Naya.

Naya langsung merintih lirih begitu merasakan penis lembek Udin yang mulai bergerak keluar masuk lagi.  

“Gimana rasanya kontol Udin tan…? Enak nggak?” Tanya Udin sembari terus menggerak-gerakkan penisnya maju mundur.

Naya mengangguk.

Merasa reaksi Naya kurang menggemaskan, Udin kembali bertanya. “Gimana tan? Jawab donk… gimana rasanya…?”
“Enak Din….Enak…”
“Yakin bener-bener enak….?” Goda Udin lagi.
“Iya… Din… Bener-bener enak….”
“Enak mana ama kontol suami tante…?”

DEG

Tiba-tiba Naya kembali teringat akan suaminya yang saat ini sedang tak ada di rumah. Suami tercinta yang saat ini sedang Naya dustai. Suami setia yang yang saat ini sedang Naya selingkuhi.

“HAP…” Udin tiba-tiba sambil mencaplok payudara gedhe Naya.
“Ooouugghh…” seolah terkaget akan perselingkuhan yang belum terselesaikan ini. Naya segera tersadar.
““Enak mana tan…?” Tanya Udin lagi sambil memilin-milin putting payudara Naya yang bebas. “Enak kontol Udin atau enak kontol suami tante…?”

Perlahan namun pasti, birahi Naya yang baru saja terpuaskan oleh persetubuhannya dengan tukang ojek ini meninggi, seiring jilatan lidah kasar Udin di payudara Naya. Perlahan namun pasti, vagina yang masih saja berkedut dahsyat karena orgasme, mulai melelehkan lendir kewanitaanya karena goyangan penis lembek udin yang keluar masuk. Perlahan namun pasti, Naya mulai menikmati perselingkuhan kilatnya ini. Dan perlahan namun pasti, sensasi nikmat penis Loddy, tergantikan oleh batang panjang menyeramkan milik Udin. Hingga pada akhirnya, air mata Naya menetes ketika menjawab pertanyaan Udin barusan.

“Kontolmu Din…” Jawab Naya sambil menatap tajam sosok pria yang sedang menyetubuhinya itu.
“Kenapa tan…? Udin nggak denger….”
“ENAKAN KONTOLMU DIN….”
“Hehehehe… makasih ya tan… memek tante juga enak banget…”

“Maafkan adek mas…. “ batin Naya “Adek tak bisa menjaga kesucian pernikahan ini…. Adek tak tahu harus melakukan apa guna mencegah perselingkuhan nikmat ini…”

Naya tahu, jika apa yang ia lakukan malam ini adalah sebuah kesalahan. Naya juga tahu jika tak sepantasnya ia bercinta dengan pacar putrinya. Namun satu hal yang tak bisa Naya pungkiri.

Persetubuhan yang baru mereka lakukan belasan menit dengan tukang ojek ini, jauh lebih nikmat daripada persetubuhan yang ia lakukan belasan tahun dengan suami tercintanya.

“Tante… coba deh tante sepongin kontol Udin…” mendadak, tukang ojek yang sedang menggerakkan pinggangnya maju mundur, mencabut batang penis panjangnya dan menyodorkan pada mulut Naya.

“ASTAGA…. BESAR SEKALI DIN….” Bisik Naya histeris sambil menutup mulutnya. Naya tahu jika Udin memiliki penis yang sangat besar, namun Naya tak tahu jika penisnya sebesar itu.

Selama ini, yang Naya tahu tentang penis udin hanyalah dari photo-photo  yang ada di laptop Mitha. Namun hal itu sangatlah berbeda, karena setelah mengetahui bagaimana kondisi batang kelamin yang menjuntai panjang dari selangkangan tukang ojek langganannya itu, Naya baru sadar, jika penis Udin yang sebenarnya jauh lebih besar daripada photo yang ada di laptop putrinya.

Penis udin yang walau belum ereksi sepenuhnya, sudah membengkak sebesar pergelangan tangan Naya. Penis itu terlihat begitu menyeramkan dengan ditambah oleh urat-urat hitam yang tumbuh di sekujur batang penisnya.

“GILA… ternyata aku baru saja disetubuhi oleh botol air mineral…” ujar Naya dalam hati. “Pantesan, penis ini tadi terasa begitu menyakitkan….”

Jemari lentik Naya perlahan mulai menyentuh batang penis Udin yang menggelantung lemas. Dengan seksama, Naya memeriksa batang raksasa milik pacar putrinya.

“Tititmu kok bisa besar sekali sih Din…? Mana Hitam sekali… ?” Tanya Naya sambil berulang kali membalik-balik batang hitam yang berlumuran lendir vaginanya itu.
“Kontol tante… Kontol… bukan titit..” koreksi Udin lagi.
“Eh iya… Kontol…”
“Gak tahu tan… dari lahir kontol Udin emang udah seperti ini…”

Iseng, Naya tiba-tiba ingin mengurut batang penis panjang yang ada di hadapannya. Dan begitu diurut, dari lubang kepala penis Udin, ternyata masih ada beberapa tetes sperma yang muncrat. Mengenai mulut serta hidung Naya.

“Hahahahahaha…” melihat Naya terkaget-kaget, mendadak Udin tertawa.
“Masih ada aja Din pejuhmu….”
“Iya donk… Udiiinnn…..” bangga ojek kampung sialan itu.

Wajar memang jika Udin berbangga ria akan kehebatan batang kejantanannya itu. Karena walau Naya tak pernah tidur dengan lelaki lain, seorang pria akan merasa begitu hebat jika ada wanita yang memuji kemampuannya diatas ranjang.

Mendengar Udin yang masih berbangga ria, entah mendapat semangat dan dorongan darimana, Naya mendadak merasa ingin mengetahui sebatas apa kemampuan dirinya dalam memuaskan lelaki.

“Din… boleh nggak…?” Tanya Naya malu-malu.
“Pengen apa ya tan…?”
“Hmmm…. Tante pengen…..”
“Pengen apa tantekuuu…?”
“Tante pengen sepongin kontol panjangmu…”
“Hahahaha… idih tante… kok sekarang kamu nakal sih…?”

Sekarang, Naya, ibu satu anak ini merasa seperti kembali ke masa beberapa tahun silam. Masa dimana dia dan suaminya sedang akan melakukan malam pertama. Masa pacaran ketika pernikahan baru saja akan dimulai. Masa dimana seks terasa serba malu-malu. Namun bedanya, di hadapan naya bukanlah Loddy suaminya. Melainkan Udin, ojek kampung yang beberapa saat lalu sangat ia benci.

“Boleh ya Udin sayaaannggg….?”
“Bentar-bentar… kamu mamanya Mitha khan…? Bukan pelacur kampung sebelah…?” ujar Udin sambil menjauhkan pinggangnya dari mulut Naya. Sengaja mencegah Naya ketika ingin melahap kepala penisnya.

“Kamprett.. Lagi-lagi Udin sialan ini membandingkanku dengan pelacur murahan…” sengit Naya dalam hati “Namun masa bodoh-lah… yang jelas, aku pengen ngerasain kenikmatan orgasme lagi…”

“Iya, aku Naya, mamanya Mitha…” ujar Naya singkat
“Yakin… kamu tante Naya? ”
“Iya…emangnya kenapa?”
“Abisan…. Kok sekarang tingkah lakunya mirip pelacur?”
“Aku bukan pelacur… aku mamanya Mitha…”
"Ahh… kamu bukan mamanya Mitha… kamu pasti pelacur…” canda Udin lagi sambil kembali menjauhkan batang penisnya dari mulut Naya. “Soalnya cuman pelacur yang mau nyepongin kontolku…”
“Udiinnn…..siniin…”
“Ngaku dulu donk.. kamu pelacur apa bukan…? Kalo kamu bukan pelacur, kamu ga boleh nyepong kontolku…” goda udin lagi.
"Iyaaaa… Aku pelacur… aku bukan mamanya Mitha…" kata Naya “Sekarang.. kesiniin kontolmu…” tambah Naya sebelum akhirnya menerkam panjang Udin ke dalam mulutnya.

Lidah Naya segera berlari kesana-kemari, menjilati batang penis ojek kampung itu hingga benar-benar bersih dari lumuran sperma dan lendir vaginanya. Melumati kepala penis pacar putrinya sambil sesekali menyedot lubang kencing itu kuat-kuat hingga tak tersisa setetes sperma sedikit pun.

Ini adalah seks oral pertama yang pernah ia lakukan. Bagi Naya, seks oral adalah persetubuhan yang jorok, kotor dan penuh kenajisan. Sudah berulangkali Loddy mengajak Naya untuk melakukan seks oral, tapi Naya tak pernah sekalipun mengabulkan ajakan suami tercintanya.

Namun anehnya, malam ini Naya begitu antusias untuk mencoba melakukan oral seks yang tak pernah ia sukai dengan orang yang sebelumnya ia benci. Naya melakukan oral seks dengan Udin, ojek kampung bau yang memiliki batang penis ekstra besar.

"Tante tuh salah satu pelacurku.." ujar Udin sambil kembali memaju mundurkan kepala Naya kearah Batang penisnya.
"Tante… Aku mau ngentotin tante lagi..." Ucap Udin singkat sambil mencabut penisnya yang sudah kembali tegang dan memukul-mukulkannya ke mulut Naya.

“ Tante… emangnya tante selalu sebinal ini?” Tanya Udin.
“Enggak… Tante tak pernah seperti ini…  sebenarnya tante malu, tapi masa bodoh…”
“Yaudah… kalo gitu sekarang tante telentang….” Ucap Udin sambil mencabut batang penis panjangnya dari mulut Naya.
“Bentaran Din… aku belum puas ngenyot-kenyot kontolmu… kesini’iiiiiinnnn…” pinta Naya binal sambil menggapai-gapai kea rah Udin.

Udin sama sekali tak menggubris permintaan Naya. Ia segera menuju kearah tubuh bawah Naya. Dengan tegasm Udin meminta Naya untuk membalikkan tubuhnya yang semula telentang menjadi tengkurap. Dan dengan cekatan, Udin mengangkat pinggang Naya guna memposisikan Naya supaya nungging.

“Aku mau DOGGY tan…” ujar Udin santai sambil mulai menepuk-tepukkan batang hitam kemerahan yang ada di pangkal selangkangannya dengan bersemangat.

“PEK…PEK…PEK …” suara yang dihasilkan dari tumbukan batang penis Udin dan vagina basah Naya.

“Basah bener memek kamu tante…. Udah sange banget ya?
“Hhhmmm…Ho’oh…”
“Kontolku ini akan memuaskan dirimu lagi malam ini…”

Perlahan-lahan, Udin mendorong kepala penis hitamnya masuk ke dalam celah kenikmatan Naya.

“Pelan-pelan din… sakit….” Rintih Naya manja.
“Tenang tante… Tahan dikit…. Ntar pasti enak lagi…”
“Oooouuuhhh…. Pelan-pelan diiiinnnn….”
“STOP DIN…. Stop…. Memekku terasa begitu penuh…”
“Laaaaahh…. Tapi khan batang kontolku belum masuk semua tan?”

Kalimat Udin kembali menyadarkan Naya, jika melakukan persetubuhan dengan posisi doggy ini membuat batang penis Udin yang ekstra besar ini terasa jauh lebih panjang jika dibandingkan melakukan persetubuhan dengan gaya biasa.

“Serius?.... “ Tanya Naya seolah tak percaya.
“Beneran tan… nih…” kata Udin yang langsung melesakkan batang penisnya hingga mentok.
“Ooouuugghhh…. Besar sekali kontolmu din….”
“Memangnya kontol suami tante tak seperti ini ya?”
“Setengahnya pun tak sampe Din….”

“Hahaha… “

Ketika Udin kembali mencoba melesapkan batang panjangnya dalam-dalam. Serangkaian orgasme dalam vagina Naya pun langsung terbangun kembali. Dia tidak pernah merasakan kenikmatan seperti ini dalam lima belas tahun pernikahannya.

Orgasme yang tiap kali ia rasakan ketika bersama Loddy, suaminya, terasa begitu kecil, sangat jauh berbeda dengan orgasme yang diberikan oleh Udin. Dan bedanya lagi, walau telah beberapa menit lalu Naya baru saja diberi orgasme oleh Udin, orgasme itu tak segera menghilang. Orgasme itu selalu ‘mengetuk’ dinding vagina Naya setiap kali Udin menggerakkan penisnya.

Semenit, dua menit, tiga menit.

Orgasme dari Udin tak juga kunjung berhenti. Naya mengalami Multi orgasme.

“Bentar Din…. Bentar….. jangan buru-buru nyodokin kontolnya…”
“Kenapa tan?”
“Aku masih pengen ngerasain kedut-kedutan orgasme barusan…”
“Hahahaha… “ Lagi-lagi Udin tertawa terbahak-bahak…” Tante mirip ama perawan deh, kayak nggak tahu apa-apa…”
“Ahhh Udin… khan tante juga pengen ngerasain enaknya kedutan itu…”
“Hahaha… kalo sama Udin, tante bakal terus ngerasain kedutan itu kok tan… tenang saja… tante bakal ketagihan terus…”

Udin kembali mempergencar sodokan batang penis pada vagina ibu satu anak itu. Makin lama makin kencang dan cepat. Hingga kedua insan yang sedang dilanda nafsu birahi ini kembali melenguh-lenguh keenakan.

“Gimana rasanya kontol Udin tan….?” Tanya udin sambil terus mempercepat tumbukan batang penisnya dalam-dalam ke celah kenikmatan Naya.
“Sssshh… enak Din…. Enak banget…” rintih Naya

Merasa Naya sudah dimabuk birahi, tangan hitam Udin dengan perlahan mulai meremas pipi pantat Naya, mengusap dan terkadang menepuk pelan.
“Goyangan pantatmu sungguh seksi tan…”
“OOooouuhh… sodokan kontolmu juga nikmat Din…”

“CPEK…CPEK…CPEK…” Suara sodokan demi sodokan yang sudah tak lagi terhitung jumlahnya, terdengar begitu membahana. Berisik sekali.

Walau saat ini Naya sedang berada di kamar Mitha putrinya, Naya seolah tak peduli. Ia terus melenguh dan mengembik keenakan. Naya pun seolah tak peduli jika seandainya Mitha dapat mendengar persetubuhan ibunya yang dilakukan ketika ayahnya tak berada dirumah.

Lagi-lagi, Naya hanya memikirkan satu hal. Ia hanya ingin mendapatkan kenikmatan dan kepuasan maksimal dari penis ojek kampung ini.

Berulang kali, Naya melenguh dan menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba mengimbangi kenikmatan yang diterima oleh liang vaginanya. Hingga tiba-tiba,  Udin meluncurkan salah satu ibu jarinya turun kedalam lubang anus Naya.

Naya yang merasa tekanan pada lubang pantatnya langsung menghardik lirih.
"Hei Udin…. Itu Itu lubang pantatku."
"
iya… Udin tahu tan…." Ujar Udin santai sambil terus menggelitik lubang anus Naya dengan mendorong ke bawah ibu jarinya masuk lebih dalam.

Pada awalnya Naya merasa sangat tidak nyaman dengan apa yang ibu jari Udin lakukan pada lubang anusnya, namun karena gelijang kenikmatan pada vaginanya semakin menggila, akhirnya Naya membiarkan ibu jari ojek kampung itu bermain-main di dalam lubang anusnya.

Malah, sekarang Naya mulai menyukai gelitikan ibu jari itu.

Orgasme kedua setengahnya pun mulai datang. Dan seolah lupa akan rasa risih yang diterima Naya pada anusnya, Naya yang merasa orgasmenya akan datang beberapa saat lagi, kembali berteriak-teriak histeris.
"Ya Tuhan, Udin… entot tante Dinn….colok bo’ol tante… sodok Din… Sodoookk…”

Ttak mensia-siakan permintaan nakal Naya, Udin segera mendorong ibu jarinya masuk dan keluar dari lubang pantat Naya, seiring dengan sodokan batang penisnya

“Ooouuuhhh… aku keluar lagi Diinnn….”

Satu orgasme sempurna tampaknya tak mampu dibendung Naya. Menyebabkan Naya tumbang kedepan, merangsek lembutnya kasur dengan sprei yang tak terpasang rapi.

Melihat Naya yang kelelahan, Udin mencabut penis dan ibu jarinya. Namun

"
Jangan dicabut Din…" bisik Naya dengan nafas yang tersengal-sengal ke Udin.
"Jangan dicabut Din.. Lagi…Jangan pernah sekalli-kali mencabut jempolmu dari bo’olku…." Suaranya begitu lembut, hingga saking lembutnya, Naya tidak yakin Udin bisa mendengarnya.
"Lagi din… lagi..."

ketika gelombang kedut orgasme Naya mulai mereda, Naya segera melonggarkan otot pantatnya  dan menyodorkan lubang anus itu ke Udin.

“Sodok bo’olku Din…” ujar Naya. Entah darimana ide buruk itu, tapi Naya sepertinya sama sekali tak menghiraukan.
“Sodok Diiinnnn….”

Udin tak mengira akan efek dari gelitikan ibu jari pada lubang anus Naya akan menjadi seperti ini. Ojek kampung ini merasa begitu beruntung. Ia sama sekali tak menyangka akan mendapat partner seks yang sebinal ibu satu anak ini.

“PLOP….” Suara batang penis Udin ketika tercabut dari kenyotan dinding vagina Naya.

Segera saja Udin membawa kemaluannya mendekat kearah lubang anus Naya yang masih kuncup saking ketatnya. Dengan penis yang masih berlumuran campuran sperma dan lendir kenikmatan ibu satu anak ini, Udin mulai melesakkan kepala penisnya ke dalam lubang anus Naya.

"Anjriiitt…  tante, lubang bo’olmu sempit sekali..” jerit Udin

Naya mendesis lirih…

“Terus Dinnn…”

Semula, Naya yang masih dalam kondisi orgasme berpikir jika Udin menyodok lubang anusnya dengan ibu jarinya, akan tetapi begitu batang kecil itu mulai masuk, ternyata pemikiran Naya salah. Yang Udin tusukkan ke lubang anus Naya bukanlah ibu jarinya, melainkan kepala penis Udin yang berukuran ekstra besar.

"Ya Tuhan… Udin… yang kamu masukkin bukan ibu jari kamu?”
“Shhh… Tan… enak banget…”
“Hhheeeggh… stop Din.. stop… besar banget…. Bool tante bisa sobek Dinn… Stoppp…”
"Ooouuhh… ketat sekali tantee… " gerutu Udin
"Bentar lagi juga bakal terasa enak..”
"Tidak Din… tidak … kontolmu kegedhean Din " Mata Naya tergulung keatas karena menahan rasa sakit  yang mendera lubang anusnya.

Merasa penolakan yang amat gencar dari Naya, mau tak mau membuat Udin harus memutar otak. Dan seketika, Udin mendapat jalan keluar itu.

"Coba bentar ya tan… Udin juga pengen ngerasain enak…” pinta tukang ojek mesum itu.
“Enggak Din… aku udah ga kuat sama sakitnya…”
“Coba nikmatin aja dulu tante… Udin khan pengen nyobain enaknya ngentotin bo’ol mamanya Mitha…”
 “Rasanya perih banget Din… Ga enak…Saaakiiiiit …”
“Yaudah…. Kalo gitu Udin pengen nyobain di bo’ol Mitha aja…”

Mendengar kalimat Udin barusan, Naya merasa bimbang. Entah pemikiran darimana, Naya mendadak merasa cemburu pada Mitha putrinya. Tak seharusnya ia memperoleh lelaki dengan penis yang sangat memuaskan seperti ini. Udin harusnya hanya milik Naya seorang. Udin tak boleh bersama Mitha.

"Jangan Din…!" Ujar Naya dengan nada emosi yang bingung.

Naya berpikir jika kalimat “Jangan” barusan jalan tidak untuk melindungi putrinya dari kebrutalan penis Udin. Naya menipu dirinya sendiri hingga batinnaya membenarkan perselingkuhan nikmat ini.

"Jangan Din… Jangan…. Sodok bo’olku aja Din… Jauhkan kontolmu dari pantat Mitha..." Pinta Naya sambil mendorong paksa pantatnya kembali tertusuk penis besar Udin.

“Serius tan…?” Tanya Udin yang tak percaya jika trik tentang Mitha selalu saja berhasil.
“Iya Din… Jangan entotin bo’ol Mitha… entotin aja bo’olku Din…”
"Hahahaha…” Udin kembali tertawa senang. “Tante Nayaku.. Kamu memang pelacur murahan… Udin benar-benar beruntung bisa mendapatkanmu…”
“Udah-udah… Ntar aja rayu-rayuannya… sekarang buruan sodok bo’olku…”
“Kamu memang hot tan… benar-benar hot.. "

Udin yang merasa mendapat persetujuan Naya, mulai melanjutkan pengeboran penisnya. Batang penis yang sudah setengah tenggelam ke dalam anus Naya, mulai ia paksa masuk kembali.

“Apa yang terjadi pada diriku…? Apa aku sudah menjadi seorang pelacur murahan….?” Tanya Naya dalam hati.

Beberapa saat lalu, Naya adalah seorang istri yang setia. Istri yang memiliki harkat dan derajat yang tinggi. Istri selalu menjaga harga diri dan kehormatannya.

Namun, hanya karena luapan nafsu birahinya, dalam waktu beberapa jam Naya telah berubah menjadi seperti seorang pelacur. Yup. Istri sekaligus pelacur bagi orang lain. Istri yang telah menelan sperma lelaki lain. Istri yang telah membiarkan penis lelaki lain menumpahkn sperma dalam vaginanya. Istri yang telah mencoba menikmati seks anal. Istri yang selalu haus akan kepuasan seksual.

“Aku memang pelacur murahan… aku memang selalu haus akan kenikmatan seksual…”

Naya yang semula hanya berdiam diri, sekarang mencoba merasakan kenikmatan dari anal seks bersama tukang ojek langganannya itu. Dengan masih dalam posisi pantat yang menungging, Naya berusaha menstimulus titik rangsangnya sendiri. Naya tak mau dirasa seperti gedebog pisang yang diam saja ketika ditusuk tongkat wayang.

Sementara Udin masih menyodokkan penis pada lubang anusnya dengan brutal,  Nayapun tak mau kalah, karena ia mulai memperkerjakan kedua tangannya. Tangan kiri Naya memilin putting payudaranya dan tangan kanan mengobel vaginanya.

“OOuuugghh….Udin… aku mau keluar lagi…” desah Naya yang semakin mempercepat kobelan jemari lentik pada vaginanya.
“Udin juga tante... Udin udah ga sanggup lagi nahan enak ini...” balas Udin yang juga menggerak-gerakkan goyangan pinggulnya dengan brutal.
“Sodok yang kenceng Din... sodok terus...”

Tangan kiri Naya yang semula pinta memilin puting payudaranya, berpindah ke pantat Udin. Dan memintanya untuk menyodok-nyodok lubang anusnya dengan lebih cepat lagi.
“Terus Din.. Terus....” Jerit Naya beringas, hingga akhirnya...

“Aku keluar Din..... aku keluar...” jetir Naya histeris, disertai dengan cengkraman jemari tangan kirinya pada pantat hitam Udin
Tak perlu waktu lama bagi Udin untuk bisa sampai pada puncak kenikmatannya. Karena segera saja, tumpahan sperma dari batang panjang ojek kampung ini membanjiri rongga anus Naya dengan sperma panasnya.

Sperma yang memenuhi pantat Naya langsung meluap-luap keluar dari lubang anusnya. Mengalir turun seiring tarikan Udin ketika mencabut kemaluannya keluar. Walau ini adalah ejakulasi Udin yang kedua, mash sempat-sempatnya ia menembakkan beberapa tetes air mani ke pantat, punggung dan  rambut Naya.

Karena merasa begitu lelah, tubuh Udin yang masih berada dibelakang Naya melemah dan ambruk ke depan. Menabrak punggung Naya lalu tergolek lemas tak berdaya. Selama beberapa saat mereka saling tindih, saling melekatkan tubuh antara satu dan lainnya. Nafas kepuasan mereka berdua kejar-kejaran dan cucuran keringat membasahi keduanya.

Sebenarnya Naya sama sekali tak menyukai acara tempel-tempelan badan seperti ini. Badan yang bermandikan keringat, lendir vagina dan sperma seperti ini. Tapi mungkin karena Naya sama sekali tak memiliki tenaga lagi untuk bergerak, dengan terpaksa, ia merelakan tubuh mungil langsingnya tertindih oleh badan bau Udin.


Kondisi kamar yang sebelumnya bising karena lenguhan dan teriakan kenikmatan mereka, mendadak menjadi sunyi senyap. Hanya menyisakan suara desahan nafas dan detak nadi kepuasan yang mencoba memulihkan diri.

“Bo’olmu begitu enak tan.. sempit dan legit...” puji Udin sambil menjatuhkan dirinya ke samping tubuh Naya.

Naya yang sedari tadi masih dalam posisi telungkup, karena merasa pegal akan himpitan pada payudaranya, akhirnya menelentangkan badan juga. Sambil menatap langit-langit kamar, ia menjawab kalimat Udin dengan pertanyaan.

"Berapa umurmu Din?" Tanya Naya sambil tangan nakalnya meraba tubuh Udin guna mencari-cari batang panjang lembek milik Udin. Dan begitu batang itu dapat ia temukan, secara tak sadar jemari lentiknya mulai mengurut batang itu dengan perlahan.
"Dua puluh tahun tan"
“Udah berapa banyak wanita yang telah kamu tidurin…?”
Wanita? Remaja atau ibu-ibu?”
Berarti sudah sangat banyak ya Din…?”

Udin tak menjawab pertanyaan terakhir Naya. Ia hanya menoleh ke arah pemilik suara indah itu, tersenyum dan mengecup kening Naya.

Kamu suka Mitha Din?” tanya Naya lagi
Suka tan.... Udin suka banget ama dia…” jawab Udin.
Kamu udah tidurin dia?”

Mendengar pertanyaan Naya barusan. Penis lembek Udin tiba-tiba mulai mengeras, perlahan makin keras seiring urutan yang dilakukan jemari tangan Naya.
Belum sih tan … tapi rencananya begitu …” Ujar Udin malu-malu. "Aku akan menidurinya... Dan kuharap, pelayanan seks Mitha sehebat tante..."
“Kapan…? Din... 

“Bego banget sih kamu Naya...” batin ibu satu anak ini.

Pertanyaan barusan, mungkin pertanyaan terbodoh yang pernah seorang ibu lontarkan kepada pacar anaknya. Karena Naya tahu, cepat atau lambat, ojek kampung ini bakal mengambil keperawanan putri satu-satunya itu.

Lagi-lagi, Udin tak menjawab pertanyaan Naya ini, ia kembali mengecup kening Naya.
“Aku tak tahu tan… secepatnya...”
“Secepatnya...?”
“Iya tan... secepatnya... karena beberapa hari lalu Mitha sendiri yang minta Udin untuk segera mengambil keperawanannya...”
“Serius Din...?”
Iya... Anak tante benar-benar binal…. Udin yakin tan... Jika kelak Mitha dewasa, dia akan menjadi pelacur kelas atas…”

Sejenak Naya tak bisa membayangkan akan perkataan Udin barusan. “Pelacur kelas atas....”

"Rencananya... Mungkin Udin bakal nidurin anak tante minggu depan...”
“Hhhh....” Naya tak menjawab, ia hanya bisa menghela nafas panjang. Ia tahu, tak mungkin baginya untuk menyurus Mitha atau Udin guna menunda persetubuhan itu. Karena Mitha dan Udin sedang cinta-cintanya. Dan ketika muda-mudi sedang dilanda cinta, tak ada satupun hal yang bisa menghalanginya.

“Tapi sepertinya Udin bisa kok memperawani Mitha setelah dia menginjak usia delapan belas tahun, asal...”  Udin menghentikan kalimatnya dan menatap Naya dalam-dalam.
“Asal apa Din....?”

Udin tersenyum lebar sambil mencubit puting payudara Naya “Asal.... Kontol Udin selalu mendapat kepuasan dari pemilik pentil ini... yah sampai waktu itu datang....”
“Sampai Mitha menginjak delapan belas tahun ya Din...?”
“Iya tan... hingga tiga tahun kedepan....”

Mendengar rencana ojek kampung itu, Entah kenapa Naya merasa agak sedikit lega. Ibu satu anak ini merasa jika apa yang baru saja dikatakan oleh Udin, adalah merupakan petunjuk yang dapat Naya gunakan melindungi keperawanan Mitha dari Udin. Sekaligus supaya dirinya dapat menikmati persetubuhan ini hingga putrinya dewasa.

“Ini salah... ini gak bener...” Batin Naya kembali bergejolak.
“Aku harus menghentikan ini semua .... hal ini sama sekali tak boleh lagi dilanjutkan...” Pikir otak sehat Naya.”Namun...”





“Okelah kalo begitu... tante hargai keputusanmu... dan sebagai imbalannya...”
Naya beranjak bangun dari posisi telentangnya, tubuhnya meluncur turun ke arah kaki tempat tidur dan bergerak ke arah selangkangan Udin.

Dengan penuh kasih sayang, Naya mencium ujung kepala penis ojek kampung itu. Dan sebelum Naya mencaplok penis Udin, kembali ia berkata “Kamu boleh menikmati tubuhku Din... hingga tiga tahun kedepan...”

4 komentar:

raflygatel mengatakan...

wow,cerita yg sanggat menggairahkan...
klo bsa seminggu sekali ceriata kyk gini... :)

andiep mengatakan...

ahirnya setelah di tunggu muncul jg cerita nya ...???
Tp itu kisah beneran pa bukan tante ...

MiAW mengatakan...

raflygatel
susah say buat fokus nulis cerita" seperti ini, baru nulis beberapa paragraf aja udah langsung cenud" :p

andiep
kisah beneran atau bukan, tak usah lah dipedulikan, yang penting kalian seneng
*berbagi pengalaman itu seru loh...

andiep mengatakan...

Mia
Iya,kisahnya sangat menarik tp jg mengenaskan .. :D

Poskan Komentar

 
;